BANYUMAS – Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dengan melibatkan sekitar 700 personel lintas sektor. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan petugas, peralatan, dan sistem koordinasi menjelang peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Lapangan Atas Bendung Gerak Serayu, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, Sabtu.
Kegiatan itu melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Palang Merah Indonesia (PMI), relawan, organisasi kemasyarakatan, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan, penanggulangan bencana tidak cukup hanya mengandalkan tindakan ketika keadaan darurat terjadi. Kesiapan harus dibangun sejak sebelum bencana, dilanjutkan dengan penanganan saat kejadian hingga pemulihan setelah bencana.
“Oleh karena itu, kesiapan personel, peralatan, logistik, layanan kesehatan, jalur evakuasi, serta sistem komunikasi dan komando harus dipastikan berfungsi optimal untuk mendukung penanganan bencana secara cepat dan terkoordinasi,” katanya.
Menurut Sadewo, kesiapan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting untuk mempercepat respons ketika bencana terjadi. Koordinasi yang baik juga diperlukan agar setiap petugas dapat menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Mitigasi
Sadewo menekankan pentingnya soliditas antara TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Ia juga mendorong pendekatan pentaheliks yang melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat upaya mitigasi sekaligus meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat di wilayah rawan bencana.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh unsur terkait semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana, sehingga risiko korban jiwa dan kerugian materiil dapat diminimalkan,” kata Bupati dalam apel yang turut dihadiri Kapolresta Banyumas Kombes Pol Dhovan Oktavianton, Dandim 0701/Banyumas Letkol Inf Edward Deru Saka Samosir, dan Deputi Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari.
Keterlibatan berbagai instansi dalam apel tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan kesiapan personel dan sarana penanganan bencana. Dengan koordinasi yang terbangun sejak awal, penanganan di lapangan diharapkan dapat berlangsung lebih efektif.
Peralatan Diperiksa, Petugas Ikuti Simulasi
Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan pasukan dan peralatan penanggulangan bencana. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan personel serta sarana pendukung siap digunakan ketika menghadapi situasi darurat.
Selain pemeriksaan, petugas juga mengikuti simulasi penanganan bencana. Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menjalankan tugas sekaligus menguji koordinasi antarunsur sesuai peran masing-masing.
Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan pemerintah daerah dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Kesiapan sumber daya manusia dan peralatan diharapkan dapat mendukung penanganan yang lebih cepat apabila terjadi keadaan darurat.
Di sisi lain, pemerintah juga memberangkatkan bantuan sosial berupa air bersih bagi warga Banyumas yang terdampak kekeringan. Penyaluran bantuan tersebut menunjukkan bahwa penanganan dampak musim kemarau masih menjadi perhatian di tengah persiapan menghadapi musim hujan.
Musim Hujan Banyumas Diprakirakan Mulai November
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Kabupaten Banyumas memasuki masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan pada dasarian kedua Oktober 2026.
Sementara itu, awal musim hujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyumas diperkirakan berlangsung pada dasarian kedua November 2026. Khusus Banyumas bagian utara, musim hujan diprakirakan datang lebih awal, yakni pada dasarian pertama November 2026.
Dasarian merupakan periode waktu selama 10 hari. Dengan demikian, prakiraan tersebut menunjukkan bahwa perubahan musim di Banyumas berlangsung secara bertahap, dengan waktu awal yang berbeda antara wilayah utara dan wilayah lainnya.
Peralihan musim menjadi salah satu pertimbangan dalam memperkuat kesiapsiagaan daerah. Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui apel kesiapsiagaan, pemeriksaan peralatan, simulasi, dan koordinasi lintas sektor berupaya memastikan unsur penanggulangan bencana siap menjalankan tugas sesuai kebutuhan di lapangan.
Upaya tersebut diharapkan dapat menekan risiko korban jiwa dan kerugian materiil sekaligus meningkatkan kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Sumber: Antaranews.com