agenda kota

Hujan Deras Picu Banjir di Maos dan Kroya Cilacap, Air Masuk Rumah Warga hingga 20 Cm

Urban Jateng Diterbitkan 15:53 3 menit membaca
Foto: antaranews.com
Ukuran Teks:

CILACAP – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyebabkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Dampaknya, permukiman warga, lahan persawahan, pekarangan, hingga beberapa ruas jalan terendam air.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap mencatat kejadian tersebut berlangsung setelah hujan turun sejak Jumat (30/10) malam hingga Sabtu (31/10) pagi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Taryo menjelaskan, hujan mulai mengguyur sekitar pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 05.00 WIB. Berdasarkan pendataan sementara hingga pukul 08.00 WIB, dampak banjir ditemukan di Kecamatan Maos, Kroya, dan Jeruklegi.

“Di wilayah Kecamatan Maos dan Kroya, air mulai menggenangi pekarangan, persawahan, jalan, hingga masuk ke sejumlah rumah warga,” kata Taryo di Cilacap, Sabtu.

Salah satu wilayah terdampak berada di Desa Mrenek, Kecamatan Maos. Genangan di RT 01 RW 08 mencapai sekitar 10-20 sentimeter, terutama di pekarangan dan area persawahan.

Kondisi lebih serius dilaporkan terjadi di Desa Karangreja. Luapan air mulai memasuki rumah warga di RT 02 RW 04 serta RT 02 dan RT 03 RW 03 Dusun Krikil.

Ketinggian air di halaman rumah dilaporkan mencapai sekitar 50 sentimeter, sedangkan genangan di bagian dalam rumah sekitar 20 sentimeter.

“Warga di lokasi tersebut belum mengungsi, tetapi pemerintah desa mulai mempersiapkan dapur umum di Balai Desa Karangreja untuk mengantisipasi perkembangan kondisi banjir,” kata Taryo.

Banjir Meluas ke Sejumlah Titik di Kecamatan Kroya

Selain Maos, genangan air juga dilaporkan terjadi di beberapa lokasi di Kecamatan Kroya.

Di Desa Mujur Lor, air menggenangi kawasan sekitar Masjid Istiqomah. Genangan juga ditemukan di kawasan pertokoan Kota Baru, Dusun Pecangakan, dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter.

Sementara itu, di RT 24 RW 02 Dusun Karangchengsi, Desa Sikampuh, air merendam pekarangan dan mulai masuk ke sejumlah rumah warga. Ketinggian genangan diperkirakan mencapai 10-20 sentimeter.

BPBD juga menyoroti adanya sumbatan eceng gondok di anak Sungai Silunjar yang berpotensi menghambat aliran air.

Lokasi sumbatan berada di Jalan Sikampuh-Bejen RT 34 RW 03, tepatnya di Kompleks Embung Baru. Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD meminta bantuan alat berat agar material penghambat aliran sungai dapat segera disingkirkan.

“Kami juga meminta bantuan alat berat untuk menyingkirkan sumbatan eceng gondok di anak Sungai Silunjar, tepatnya di Jalan Sikampuh-Bejen RT 34, RW 3, Kompleks Embung Baru. Sumbatan tersebut dikhawatirkan menghambat aliran air dan berpotensi memperparah banjir,” katanya.

Banjir di Jeruklegi Limpas ke Jalan Raya, Longsor Terjadi di Desa Mandala

Dampak hujan juga dirasakan warga Kecamatan Jeruklegi. Banjir dilaporkan terjadi di Desa Cilibang dengan menggenangi lapangan desa dan menyebabkan air melimpas ke ruas Jalan Raya Jeruklegi-Wangon.

Meski demikian, berdasarkan laporan BPBD, jalur tersebut masih dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Selain genangan, bencana tanah longsor terjadi di Dusun Paneoen, Desa Mandala, Kecamatan Jeruklegi.

Petugas BPBD bersama pemerintah kecamatan dan desa setempat telah melakukan koordinasi serta penanganan darurat dengan membersihkan material longsoran yang menutup area terdampak.

“Pemerintah Desa Mandala juga sedang mengupayakan untuk mendatangkan alat berat untuk mempercepat pembersihan material longsor,” katanya.

BPBD Lakukan Pemantauan dan Penanganan Darurat

Hingga Sabtu pagi, petugas BPBD melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Daerah (UPTD PKBD) masih melakukan asesmen di sejumlah lokasi terdampak.

Pemantauan juga dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi di wilayah lain yang berpotensi mengalami dampak serupa akibat hujan.

Taryo mengatakan koordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta pihak terkait terus dilakukan guna mempercepat penanganan di lapangan.

“Kami terus memonitor perkembangan yang ada dan juga berkoordinasi dengan pihak terkait,” ujar Taryo.

Penanganan difokuskan pada pemantauan genangan, pembersihan material longsor, serta upaya mengatasi hambatan aliran sungai yang berpotensi memperburuk kondisi banjir.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar