JAKARTA – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkatkan risiko di pasar energi global. Kekhawatiran terhadap potensi serangan baru serta gangguan produksi minyak di sejumlah negara produsen menjadi faktor yang berpeluang mendorong harga minyak mentah bertahan di level tinggi hingga akhir Oktober 2026.
Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada level US$ 103,27 per barel dalam perdagangan Jumat (23/10/2026). Harga tersebut menguat 3,82% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent naik 3,14% menjadi US$ 116,72 per barel.
Kenaikan harga minyak berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai hubungan Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa pemerintahannya tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan menyebut sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat.
Laporan mengenai kemungkinan serangan baru yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS turut memicu kekhawatiran pelaku pasar. Ketidakpastian tersebut membuat risiko terhadap kelancaran pasokan energi global kembali menjadi perhatian.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai perkembangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia.
“Ya salah satu penyebabnya adalah secara geopolitik. Geopolitik pertama ini tentang masalah perang di Eropa Timur yang semakin menjadi-jadi,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).
Gangguan Produksi Libya Tambah Tekanan Pasokan
Selain ketegangan di Timur Tengah dan konflik di Eropa Timur, pasar minyak juga menghadapi risiko dari penghentian produksi di Libya akibat sabotase. Gangguan tersebut menjadi perhatian karena Libya merupakan salah satu negara penghasil minyak mentah yang memasok kebutuhan pasar internasional.
Menurut Ibrahim, kondisi produksi di Libya berpotensi memengaruhi pergerakan harga Brent dan WTI secara berbeda. Ia memperkirakan harga Brent memiliki peluang menguat lebih tinggi dibandingkan minyak mentah WTI apabila gangguan produksi tersebut terus memengaruhi pasokan.
“Libya saat ini menghentikan produksi karena adanya sabotase. Kami lihat bahwa Libya salah satu negara penghasil minyak mentah kualitas tinggi yaitu brent oil ya sehingga pada saat pergantian minyak di produksi minyak di Libya ini akan membuat kemungkinan besar brent oil yaitu akan di US$ 118 melebihi WTI crude oil yang kemungkinan besar hanya di US$ 108,30,” kata Ibrahim.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa masing-masing jenis minyak mentah berpotensi menghadapi dinamika harga yang berbeda. Gangguan pasokan dari negara produsen dapat meningkatkan tekanan terhadap harga, terutama apabila terjadi bersamaan dengan ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi distribusi energi.
Ketegangan Timur Tengah Tingkatkan Risiko Pasokan
Risiko terhadap pasokan minyak juga meningkat seiring berlanjutnya ketegangan yang melibatkan Iran dan AS. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan penghasil energi tersebut.
Perkembangan keamanan itu turut berdampak pada aktivitas sejumlah pihak di Arab Saudi. Departemen Luar Negeri AS memerintahkan personel yang tidak esensial untuk meninggalkan negara tersebut. Sementara itu, Saudi Aramco dilaporkan meminta staf di kantor pusatnya di Dhahran bekerja dari jarak jauh setelah serangkaian serangan.
Situasi tersebut memperbesar perhatian pasar terhadap potensi gangguan produksi maupun distribusi minyak. Apabila ketegangan terus meningkat, ketidakpastian pasokan dapat menjadi faktor tambahan yang menopang harga minyak mentah dunia.
Harga Minyak Tinggi Berisiko Tekan Inflasi
Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada pasar komoditas, tetapi juga berpotensi merambat ke perekonomian global. Harga energi yang bertahan tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan logistik, yang kemudian berpotensi menambah tekanan inflasi.
Perkembangan ini juga dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Jika harga energi terus meningkat, pelaku pasar akan mencermati kemungkinan dampaknya terhadap inflasi dan keputusan kebijakan moneter.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak pada pekan terakhir Oktober 2026 akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, kelancaran produksi di negara-negara pemasok, serta respons pasar terhadap risiko inflasi.
Proyeksi Harga WTI dan Brent Akhir Oktober 2026
Untuk perdagangan pekan terakhir Oktober 2026, Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah WTI bergerak dalam rentang US$ 96,90 hingga US$ 108,30 per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent berpotensi menembus US$ 118 per barel. Proyeksi tersebut mencerminkan masih besarnya risiko kenaikan harga di tengah ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan pasokan minyak dunia.
Meski demikian, realisasi pergerakan harga akan bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah, kondisi produksi minyak Libya, serta dinamika pasokan global. Pelaku pasar akan terus mencermati faktor-faktor tersebut untuk menilai arah harga minyak pada sisa perdagangan Oktober 2026.
Sumber: KONTAN.CO.ID