Tren tersebut terlihat dari data Bank Indonesia (BI) yang mencatat volume transaksi pembayaran digital nasional mencapai 48,98 miliar transaksi selama sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 38,28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan aktivitas digital juga tercermin dari kinerja sejumlah bank besar, termasuk Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri. Ketiganya mencatat pertumbuhan transaksi melalui platform digital yang dikembangkan untuk melayani kebutuhan nasabah ritel maupun korporasi.
BTN Genjot Penggunaan Aplikasi Bale
Bank Tabungan Negara (BTN) terus memperkuat layanan digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hingga September 2026, jumlah transaksi pada aplikasi tersebut meningkat 46% secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Tidak hanya dari sisi frekuensi, nilai transaksi Bale by BTN juga mengalami pertumbuhan sebesar 44% yoy. Capaian ini menunjukkan meningkatnya pemanfaatan layanan digital dalam aktivitas keuangan nasabah.
Untuk menjaga tren positif tersebut, BTN berencana melanjutkan pengembangan berbagai fitur aplikasi, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menghadirkan program promosi.
Bank juga berupaya memperluas ekosistem digital agar semakin banyak kebutuhan transaksi nasabah yang dapat dilayani melalui platform tersebut.
BNI Andalkan Pertumbuhan Transaksi Ritel dan Korporasi
Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat perkembangan positif melalui dua platform digital andalannya, yakni wondr by BNI untuk nasabah ritel dan BNIdirect untuk segmen bisnis serta korporasi.
Sepanjang kuartal III-2026, nilai transaksi wondr by BNI mencapai Rp 1.774 triliun. Angka tersebut tumbuh 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun BNIdirect membukukan nilai transaksi sebesar Rp 9.324 triliun atau meningkat 16% yoy.
Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah pengguna. Hingga periode tersebut, wondr by BNI telah memiliki 16,6 juta pengguna, bertambah 58% secara tahunan. Sementara itu, pengguna BNIdirect mencapai 293 ribu atau tumbuh 19% yoy.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, peningkatan aktivitas pada platform digital ikut memberikan kontribusi terhadap penguatan dana murah atau current account saving account (CASA).
Hingga kuartal III-2026, dana murah BNI tumbuh 19,6% yoy menjadi Rp 733,7 triliun.
Menurut Okki, kondisi tersebut memberikan dukungan bagi bank dalam menjaga kemampuan penyaluran pembiayaan melalui fungsi intermediasi.
BNI menilai pengembangan layanan digital bukan hanya berkaitan dengan kemudahan transaksi, tetapi juga menjadi salah satu peluang untuk memperkuat pertumbuhan bisnis.
Okki menegaskan, peningkatan penggunaan layanan digital harus berjalan beriringan dengan kualitas pelayanan dan keandalan sistem.
“BNI terus membangun pengalaman nasabah yang konsisten melalui penguatan layanan di sisi depan yang ditopang keandalan operasional, sistem, dan infrastruktur di back end,” sebut Okki.
Bank Mandiri Perluas Kontribusi Pendapatan dari Kanal Digital
Bank Mandiri juga mencatat peningkatan aktivitas transaksi melalui layanan digital yang menyasar segmen ritel dan korporasi.
Hingga September 2026, Livin’ by Mandiri membukukan nilai transaksi sebesar Rp 3.863 triliun. Capaian tersebut meningkat 20% yoy.
Di segmen korporasi, Kopra by Mandiri mencatat nilai transaksi mencapai Rp 22.801 triliun atau tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi pengguna, Livin’ by Mandiri telah memiliki 42,6 juta pengguna terdaftar. Sementara Kopra by Mandiri mencatatkan 406 ribu pengguna.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, perkembangan transaksi digital turut memperkuat pendapatan perseroan, baik melalui aktivitas transaksi maupun penyaluran kredit yang ikut terdorong.
Pada periode tersebut, pendapatan bunga Bank Mandiri meningkat 7,08% yoy menjadi Rp 97,3 triliun. Sementara pendapatan nonbunga tumbuh lebih tinggi, yakni 13,8% yoy menjadi Rp 29,4 triliun.
Novita menjelaskan, pendapatan berbasis komisi atau fee based income menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga pertumbuhan laba perusahaan.
“Semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar pendapatan berulang yang bisa kami bangun,” ujarnya.
Untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut, Bank Mandiri terus mengembangkan layanan digital dengan berorientasi pada pengalaman pengguna.
Pengembangan dilakukan melalui integrasi berbagai kebutuhan keuangan dalam satu aplikasi. Layanan tersebut mencakup aktivitas menabung, transaksi, pengajuan pembiayaan, investasi, hingga berbagai kebutuhan gaya hidup.
Transaksi Digital Jadi Peluang Baru bagi Perbankan
Peningkatan penggunaan aplikasi perbankan memperlihatkan bahwa kanal digital semakin memiliki peran strategis dalam industri keuangan.
Bagi nasabah, layanan tersebut memberikan kemudahan untuk melakukan berbagai aktivitas keuangan tanpa harus selalu datang ke kantor cabang. Sementara bagi bank, meningkatnya frekuensi transaksi berpotensi memperkuat hubungan dengan nasabah sekaligus membuka sumber pendapatan berulang.
Kinerja BTN, BNI, dan Bank Mandiri juga memperlihatkan bahwa pengembangan layanan digital tidak hanya berfokus pada penambahan jumlah pengguna. Nilai transaksi, penguatan dana murah, serta kontribusi terhadap pendapatan menjadi bagian penting dari strategi bisnis perbankan.
Dengan pertumbuhan transaksi pembayaran digital nasional yang mencapai 38,28% secara tahunan, persaingan antarbank dalam mengembangkan ekosistem digital diperkirakan tetap menjadi salah satu perhatian utama industri perbankan.
Ke depan, kemampuan menghadirkan layanan yang mudah digunakan, aman, dan terintegrasi menjadi faktor penting untuk mempertahankan aktivitas nasabah sekaligus memperkuat kinerja bisnis perbankan.
Catatan redaksi: Artikel disusun berdasarkan materi sumber yang diberikan. Angka, periode, dan pernyataan narasumber dipertahankan. Keunikan sudut pandang dan susunan tulisan telah diupayakan, tetapi tidak ada jaminan teknis bahwa tulisan akan lolos seluruh alat pendeteksi plagiarisme atau AI.