JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan signifikan menjelang akhir Oktober 2026 hingga kembali berada di bawah level US$ 4.000 per ons troi. Ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) dalam jangka waktu lebih lama serta tekanan likuiditas global menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga logam mulia tersebut.
Mengutip data Trading Economics pada Jumat (23/10/2026), harga emas dunia turun 30,86 poin atau 0,77% menjadi US$ 3.993,96 per ons troi. Pelemahan juga terlihat dalam berbagai periode perdagangan. Secara mingguan, harga emas terkoreksi 4,14%, sedangkan penurunan bulanan mencapai 6,57%. Adapun secara year-to-date (YTD), harga emas tercatat turun 7,54%.
Meski mengalami tekanan, prospek emas hingga akhir 2026 belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Sejumlah analis menilai pelemahan saat ini masih berkaitan dengan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS dan dinamika perdagangan di pasar keuangan global.
Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menuturkan, tekanan jual terhadap emas terutama dipicu oleh faktor fundamental makroekonomi global, khususnya arah kebijakan bank sentral AS.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada September lalu meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi lebih lama atau higher for longer. Perkembangan tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar AS, yang pada akhirnya mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
“Koreksi tajam yang membawa emas ke bawah US$ 4.000 per ons troi saat ini lebih condong bersifat koreksi teknikal yang sehat dalam tren naik jangka menengah, sekaligus respons jangka pendek terhadap penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed,” ungkap Wahyu kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga emas tidak serta-merta mencerminkan perubahan prospek jangka menengah. Pergerakan harga masih dipengaruhi oleh respons investor terhadap perkembangan kebijakan moneter, terutama ketika ekspektasi suku bunga menjadi salah satu penentu arah pasar logam mulia.
Di sisi lain, Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai pelemahan emas belakangan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor.
Namun, terdapat dinamika pasar yang menarik perhatian. Penurunan harga emas justru berlangsung ketika imbal hasil US Treasury mengalami penurunan dan pasar saham AS terkoreksi tajam. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya tekanan likuiditas yang turut memengaruhi keputusan investor dalam mengelola portofolio mereka.
“Menurut saya, kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan likuiditas, termasuk kemungkinan investor menjual emas untuk menutup kerugian di pasar saham,” jelas Brahmantya.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan emas tidak hanya ditentukan oleh hubungan antara suku bunga dan dolar AS. Kebutuhan likuiditas serta perubahan strategi investor di tengah gejolak pasar saham juga berpotensi memengaruhi permintaan terhadap logam mulia.
Dengan harga yang telah menembus ke bawah US$ 4.000 per ons troi, arah pergerakan emas selanjutnya akan bergantung pada perkembangan ekspektasi suku bunga AS, pergerakan dolar, kondisi likuiditas global, serta dinamika geopolitik. Meski koreksi terkini menambah tekanan terhadap harga, penilaian bahwa pelemahan tersebut merupakan koreksi teknikal dalam tren jangka menengah memberikan perspektif berbeda terhadap prospek emas hingga akhir 2026.
Sumber : KONTAN.CO.ID