gaya hidup

Wisatawan Asing ke Indonesia Masih Tertinggal dari Thailand dan Malaysia, Kebijakan Visa Jadi Sorotan

Urban Jateng Diterbitkan 16:45 5 menit membaca
Foto: idnnow.id
Ukuran Teks:

Kekayaan alam, budaya, dan ribuan destinasi wisata belum sepenuhnya menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama wisatawan mancanegara di kawasan Asia Tenggara. Jumlah kunjungan turis asing ke Tanah Air masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, termasuk Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Capaian tersebut melampaui target pemerintah sebesar 15 juta kunjungan dan mengalami peningkatan 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri menyebut pencapaian tersebut sebagai momentum pemulihan yang menggembirakan bagi industri pariwisata nasional.

Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, jumlah kunjungan tersebut masih menunjukkan adanya kesenjangan daya saing pariwisata regional.

Thailand, misalnya, membukukan 32,9 juta kunjungan wisatawan internasional sepanjang 2025. Angka tersebut bahkan dicapai ketika negara itu sedang mengalami penurunan jumlah kunjungan.

Malaysia juga mencatat performa kuat dengan menerima lebih dari 28 juta wisatawan mancanegara hanya dalam delapan bulan pertama 2025. Sementara Vietnam mengalami pertumbuhan kunjungan wisatawan asing sebesar 21 persen pada semester pertama tahun yang sama.

Vietnam bahkan diproyeksikan mampu mencapai 23 juta kunjungan sepanjang 2025.

Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar untuk meningkatkan daya tariknya di tengah persaingan industri pariwisata Asia Tenggara.

Indonesia Masih Tertinggal dari Tiga Negara ASEAN

Capaian 15,39 juta kunjungan wisman memang menunjukkan perkembangan positif. Namun, jumlah tersebut ternyata belum mampu mengembalikan posisi pariwisata Indonesia ke tingkat sebelum pandemi.

Angka kunjungan pada 2025 masih sekitar 8 persen lebih rendah dibandingkan capaian 2019.

Di tingkat regional, Indonesia berada di posisi keempat berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, berada di bawah Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Kesenjangan tersebut semakin terlihat ketika membandingkan target masing-masing negara. Malaysia menargetkan kedatangan 40 juta wisatawan asing pada 2026, sedangkan Indonesia menetapkan sasaran sekitar 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan.

Padahal, Indonesia memiliki keunggulan berupa keragaman bentang alam, kekayaan budaya, serta destinasi wisata yang tersebar di berbagai wilayah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi destinasi saja belum cukup untuk memastikan sebuah negara mampu memenangkan persaingan pasar wisata internasional.

Kebijakan Bebas Visa Menjadi Tantangan

Salah satu aspek yang turut memengaruhi daya saing pariwisata Indonesia adalah kebijakan akses masuk bagi wisatawan asing.

Melalui Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2024, pemerintah mengurangi jumlah negara yang mendapatkan fasilitas bebas visa dari sebelumnya 169 negara menjadi hanya 13 negara.

Kebijakan tersebut berbeda dengan sejumlah negara tetangga. Malaysia memberikan fasilitas bebas visa kepada 163 negara, sedangkan Thailand memberikan kemudahan serupa kepada 93 negara.

Perbedaan kebijakan ini menjadi perhatian karena kemudahan administrasi perjalanan dapat memengaruhi keputusan wisatawan dalam menentukan negara tujuan.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan upaya Indonesia menarik wisatawan dari China, yang dikenal sebagai salah satu pasar perjalanan internasional terbesar di dunia.

Indonesia belum memberikan fasilitas bebas visa bagi wisatawan China. Sementara itu, Malaysia berhasil mendatangkan 3,8 juta wisatawan asal negara tersebut sepanjang 2024.

Vietnam juga mencatat penerimaan sekitar 1,6 juta wisatawan China pada kuartal pertama 2025.

Di Indonesia, kontribusi wisatawan asal China disebut baru mencapai 8,8 persen dari keseluruhan kunjungan wisatawan mancanegara.

Perbedaan angka tersebut memperlihatkan besarnya peluang pasar yang masih dapat dikembangkan Indonesia untuk meningkatkan penerimaan wisatawan asing.

Devisa Pariwisata Belum Mencapai Potensi Maksimal

Selain jumlah kunjungan, kemampuan industri pariwisata menghasilkan devisa juga menjadi indikator penting dalam mengukur kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Pada 2025, devisa pariwisata Indonesia diproyeksikan mencapai 18,91 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 13,17 persen dibandingkan 2024.

Meskipun mengalami pertumbuhan, kontribusi tersebut masih menghadapi tantangan untuk mendukung target ekonomi jangka panjang pemerintah.

Dalam perencanaan pembangunan nasional, pemerintah menetapkan sasaran devisa pariwisata sebesar 32 miliar dolar AS pada 2029.

Sementara itu, untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, sektor pariwisata membutuhkan kontribusi sekitar 250 miliar dolar AS selama lima tahun.

Perbedaan antara capaian dan sasaran tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan perlu diikuti dengan strategi untuk memperbesar nilai ekonomi dari setiap kunjungan.

Dengan demikian, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya turis yang datang, tetapi juga dari besarnya belanja wisatawan dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Infrastruktur dan Promosi Masih Perlu Diperkuat

Persaingan pariwisata Indonesia dengan negara ASEAN juga berkaitan dengan persoalan yang selama ini menjadi perhatian dalam pengembangan destinasi.

Beberapa tantangan yang masih dihadapi meliputi infrastruktur, konektivitas penerbangan, promosi yang belum terintegrasi, hingga pengembangan destinasi yang masih terlalu berpusat di Bali.

Padahal, Indonesia mempunyai banyak kawasan wisata potensial di luar Pulau Dewata yang dapat dikembangkan untuk memperluas pilihan perjalanan wisatawan asing.

Konektivitas antardaerah menjadi salah satu faktor penting agar wisatawan dapat menjangkau berbagai destinasi dengan lebih mudah.

Di sisi lain, promosi yang terfragmentasi berpotensi membuat daya tarik destinasi Indonesia belum tersampaikan secara maksimal kepada pasar internasional.

Persoalan tersebut membutuhkan strategi pengembangan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan popularitas destinasi, tetapi juga memperhatikan kemudahan akses dan kualitas fasilitas pendukung.

Target Pariwisata 2029 Menjadi Pekerjaan Besar

Pemerintah telah menetapkan arah pengembangan pariwisata melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Dalam perencanaan tersebut, kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) ditargetkan meningkat dari 4,6 persen pada 2025 menjadi 5 persen pada 2029.

Target devisa pariwisata juga ditetapkan mencapai 32 miliar dolar AS pada akhir periode tersebut.

Untuk mencapai sasaran itu, peningkatan kunjungan wisatawan asing perlu didukung kebijakan yang kompetitif, perbaikan konektivitas, pengembangan destinasi, serta promosi yang lebih terarah.

Capaian 15,39 juta kunjungan wisman pada 2025 menjadi modal awal bagi Indonesia untuk memperkuat industri pariwisata. Namun, perbandingan dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan masih terbuka lebar.

Tantangan Indonesia bukan semata-mata memperkenalkan keindahan alam dan budaya kepada dunia, melainkan memastikan wisatawan dapat datang dengan mudah, memperoleh pengalaman perjalanan yang baik, serta memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan negara.

Sumber:idnnow.id

Tinggalkan komentar