gaya hidup

Astrid Widayani Dorong Pengelolaan Sampah di Solo Berbasis Kolaborasi dan Ekonomi Kreatif

Urban Jateng Diterbitkan 15:50 3 menit membaca
Foto: antaranews.com
Ukuran Teks:
SOLO – Persoalan sampah di Kota Solo membutuhkan penanganan yang melibatkan berbagai pihak, bukan hanya mengandalkan peran pemerintah. Perubahan kebiasaan masyarakat, inovasi desain, hingga keterlibatan pelaku industri kreatif dinilai menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk menghadirkan solusi yang lebih inovatif dalam menangani persoalan persampahan.

Hal tersebut disampaikan Astrid saat menjadi narasumber dalam talkshow M Bloc Design Week (MBDW) 2026 di Studio Lokananta, Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/10).

Dalam diskusi bertajuk Melihat Kota: Dari Sumber ke Kota, Astrid memaparkan kondisi serta tantangan pengelolaan sampah di Kota Solo. Ia menilai persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya melalui kegiatan pengangkutan dan pengolahan di tempat pembuangan.

Menurutnya, upaya mengurangi timbulan sampah harus dimulai dari lingkungan rumah tangga dengan membangun kebiasaan memilah dan mengurangi sampah sejak awal.

“Pengelolaan sampah membutuhkan kesadaran dan keterlibatan bersama. Kita perlu membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah, mengurangi sampah yang dihasilkan, serta mendorong inovasi agar material yang masih bisa dimanfaatkan tidak langsung berakhir sebagai limbah,” ujar Astrid.

Material Bekas Berpotensi Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Pembahasan pengelolaan sampah dalam MBDW 2026 tidak hanya berfokus pada persoalan lingkungan, tetapi juga melihat peluang pemanfaatan material bekas sebagai sumber inovasi ekonomi kreatif.

Festival desain tahunan yang memasuki penyelenggaraan kelima ini berlangsung pada 23 Oktober hingga 1 November 2026 di enam kota dengan tujuh lokasi, termasuk Lokananta Bloc di Surakarta.

Mengusung tema Daur Rupa, MBDW 2026 mengajak masyarakat memahami bahwa desain tidak sebatas tampilan visual atau estetika. Lebih dari itu, desain dapat menjadi pendekatan untuk mengoptimalkan penggunaan kembali material, benda, dan ruang secara berkelanjutan.

Sejumlah desainer, arsitek, pelaku industri kreatif, komunitas, serta masyarakat dilibatkan melalui pameran, diskusi, dan berbagai program kolaboratif.

Dalam salah satu sesi diskusi, SOC membahas tema Ketika Sampah Menjadi Persoalan Desain. Pembahasan tersebut menyoroti bagaimana pendekatan desain dapat membantu mengatasi persoalan sampah, mendorong perubahan perilaku, serta menghasilkan solusi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Selain itu, pemanfaatan material persampahan juga dibahas dari sisi peluang ekonomi, khususnya untuk menghasilkan produk baru yang memiliki nilai tambah.

Komunitas Diajak Terlibat dalam Mencari Solusi Persampahan

Rangkaian diskusi di Lokananta Bloc turut menghadirkan Kota Kita melalui pembahasan Membaca Kota dari Perspektif Komunitas.

Sesi tersebut mengangkat berbagai persoalan perkotaan dan ruang publik berdasarkan pengalaman serta sudut pandang masyarakat.

Berbagai perspektif kemudian dipertemukan dalam sesi Cross Talk yang membahas kemungkinan kerja sama antara pemerintah, komunitas, praktisi desain, dan sektor ekonomi kreatif.

Sebagai bagian dari upaya mendorong inovasi, kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan pengumuman Open Call Desain Tempat Sampah Pilah. Program ini diarahkan untuk mendorong munculnya gagasan desain fasilitas pemilahan sampah yang lebih aplikatif.

Astrid Apresiasi Karya Kreatif dari Material Reusable

Setelah mengikuti diskusi, Astrid mengunjungi sejumlah booth kreatif di area pameran. Ia melihat berbagai karya yang memanfaatkan material reusable untuk menghasilkan produk dengan fungsi baru.

Beberapa karya yang ditampilkan di antaranya mebel berupa kursi dan meja serta berbagai produk kreatif lainnya.

Astrid mengapresiasi karya tersebut karena memperlihatkan bahwa material yang sebelumnya dianggap tidak terpakai masih dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Menurutnya, pendekatan kreatif semacam ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi jumlah sampah sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis pemanfaatan kembali material.

Melalui partisipasi dalam M Bloc Design Week 2026, Pemkot Surakarta diharapkan dapat memperkuat hubungan dengan komunitas dan pelaku industri kreatif dalam mencari pendekatan baru terhadap persoalan lingkungan.

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk membangun pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada penanganan limbah, tetapi juga mengedepankan pengurangan sampah dari sumbernya serta pemanfaatan material yang masih memiliki potensi ekonomi.

Sumber:Antaranews.com

Tinggalkan komentar