kuliner

Peternak Muda Mulai Dilirik, Perbaikan Pakan Dongkrak Kualitas Susu Sapi Perah

Urban Jateng Diterbitkan 16:55 3 menit membaca
Foto: antaranews.com
Ukuran Teks:

Keterlibatan generasi muda dalam usaha peternakan sapi perah di Jawa Timur mulai menunjukkan perkembangan. Anak muda tidak hanya mengambil peran dalam mengelola ternak, tetapi juga menerapkan pengetahuan untuk memperbaiki manajemen peternakan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pakan.

Head of Sustainable Agri PT Nestle Indonesia, Syahrudi, mengatakan semakin banyak anak muda yang tertarik menjadi peternak sapi perah. Perubahan tersebut terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Ponorogo.

“Tahun 2010 mengembangkan sapi perah di Ponorogo dan alhamdulillah kalau saat ini untuk Ponorogo kita bisa mengatakan 30-40 persen itu anak muda, umur 30-an,” kata Rudi dalam pemaparan tentang peternakan rakyat di Malang, Jawa Timur, Selasa (11/2).

Menurut Rudi, generasi muda cenderung lebih mudah menerima edukasi dan menerapkan perubahan dibandingkan peternak senior. Mereka dinilai lebih terbuka terhadap pendekatan yang menggunakan logika dalam mengembangkan usaha.

Peternakan Sapi Perah Berpeluang Jadi Usaha Anak Muda

Rudi berharap peternakan sapi perah semakin menarik minat generasi muda. Sebab, sektor ini tidak hanya menawarkan kegiatan beternak, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha pendukung, seperti penyediaan pakan dan layanan kesehatan ternak.

Ia menilai peluang tersebut dapat menarik minat generasi muda yang ingin membangun usaha sendiri.

“Apalagi mungkin yang tadi Gen Z-nya yang mungkin nggak begitu senang jadi karyawan tapi senangnya jadi pengusaha. Mereka melihat semua peluang itu. Tapi tinggal sekarang kita bagaimana melihat atau mendukung usaha ini menjadi bukan hanya logis bagi mereka tapi punya banyak akses yang mempermudah usaha itu,” kata Rudi.

Meski demikian, Rudi mengingatkan bahwa menjadi peternak tidak cukup hanya berorientasi pada keuntungan. Peternak harus memahami kebutuhan sapi dan memperlakukannya dengan baik agar kondisi ternak tetap terjaga.

Widi Ilham Terapkan Ilmu Peternakan untuk Tingkatkan Produksi Susu

Salah satu contoh keterlibatan generasi muda dalam pengembangan peternakan sapi perah terlihat dari Widi Ilham Budiman. Pemuda berusia 27 tahun itu membantu mengelola peternakan milik ayahnya, Gatot Laksono, di Dusun Suruhgalih, Purwodadi, Jawa Timur.

Berbekal ilmu dari jurusan peternakan Universitas Islam Malang, Widi berupaya memperbaiki pengelolaan ternak, khususnya dalam hal pemberian pakan.

Awalnya, ia hanya membantu membersihkan kandang dan memberi makan sapi. Namun, dari kegiatan tersebut, Widi melihat bahwa pemberian pakan dan minum seadanya berpengaruh terhadap jumlah serta kualitas susu yang dihasilkan.

Pengalaman itu mendorongnya mendalami pengelolaan peternakan agar dapat menerapkan pola pemberian pakan yang lebih terukur.

“Senang kan bisa jadi contoh untuk peternak muda yang akan datang, suka sharing juga tentang manajemen peternakan sapi,” kata Widi ketika ditemui awak media di peternakan sapi Pak Gatot Laksono, Rabu.

Pola Pakan Disesuaikan dengan Kebutuhan Sapi

Dalam pengelolaan peternakan tersebut, Widi menerapkan pemberian pakan berdasarkan bobot tubuh sapi. Rumput yang diberikan juga dilengkapi konsentrat untuk mendukung hasil pemerahan.

Salah satu jenis rumput yang diutamakan adalah rumput odot. Menurut Widi, rumput tersebut memiliki kandungan air yang minim dan lebih mengenyangkan bagi sapi.

Selain memperhatikan jenis pakan, ia memastikan ketersediaan rumput dan air minum sepanjang waktu. Pola ini berbeda dari kebiasaan sebelumnya yang memberikan pakan hanya dua kali sehari dengan jumlah yang dijatah.

“Penting pakan rumput dan air selalu ada, jadi setiap mereka mau makan ada, tidak dijatah, dulu dijatah cuma 2 kali sehari. Produksi susu 15 liter bisa sampai 20-25 liter per ekor jika beranak,” katanya.

Pendampingan Berkelanjutan Masih Dibutuhkan

Rudi mengatakan perubahan pola pengelolaan peternakan rakyat membutuhkan proses edukasi yang konsisten. Tantangannya bukan hanya memperkenalkan pengetahuan baru, tetapi juga mendorong peternak agar bersedia menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Karena itu, dukungan terhadap peternak tidak cukup diberikan dalam bentuk bantuan finansial. Pendampingan dan pendekatan secara berkelanjutan juga diperlukan agar perubahan dalam pengelolaan peternakan dapat berjalan.

Sumber:antaranews.com

Tinggalkan komentar