Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Boyolali menggelar Kemah Literasi di Kebun Raya Indrokilo pada Sabtu-Minggu (24-25/10/2026). Kegiatan yang diikuti 88 peserta tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama antarkomunitas sekaligus membahas tantangan pengembangan literasi di Kabupaten Boyolali.
Selain mempererat jejaring pegiat literasi, kegiatan ini juga mendorong peningkatan kapasitas pengelola TBM dalam mengembangkan program yang menjangkau masyarakat, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan.
Ketua Forum TBM Boyolali, Esti Widayanti, mengatakan Kemah Literasi dirancang sebagai wadah konsolidasi dan silaturahmi bagi para pegiat literasi. Pesertanya mencakup pengelola taman bacaan, komunikator, komunitas literasi, hingga sukarelawan.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi tantangan dan potensi gerakan literasi di wilayah pedesaan maupun perkotaan, sekaligus meningkatkan kapasitas pengelola TBM dalam mengembangkan program literasi,” kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (26/10/2026).
Perkuat Jejaring dan Berbagi Pengalaman
Rangkaian Kemah Literasi diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari konsolidasi dan kemah edukatif, parenting harmoni, malam sarasehan, diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion (FGD) tentang literasi, hingga kegiatan luar ruang dan dinamika kelompok.
Melalui rangkaian tersebut, peserta diajak bertukar pengalaman mengenai pengelolaan kegiatan literasi. Pembahasan tidak hanya berfokus pada aktivitas di taman bacaan, tetapi juga mencakup penerapan literasi di lingkungan keluarga.
Forum ini diharapkan menjadi kesempatan bagi para pengelola TBM untuk mengenali persoalan yang dihadapi masing-masing komunitas sekaligus mencari peluang kerja sama dalam menjalankan program literasi.
Parenting Harmoni Libatkan Orang Tua dan Anak
Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah sesi parenting harmoni yang ditujukan kepada orang tua. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak merefleksikan pola pengasuhan dan hubungan dengan anak melalui instrumen asesmen kesiapan pengasuhan bernama Peta Jiwa Pendidik dan Orang Tua.
Instrumen itu digunakan sebagai sarana refleksi mandiri untuk mengenali kebiasaan pengasuhan, kemampuan mengelola emosi, serta pola komunikasi dalam keluarga.
Sementara orang tua mengikuti sesi tersebut, anak-anak menjalani kegiatan terpisah. Mereka memperoleh pengarahan dan mengikuti permainan edukatif yang berkaitan dengan literasi.
“Selama sesi parenting harmoni berlangsung, anak-anak mengikuti kegiatan secara terpisah. Mereka mendapat pengarahan dan mengikuti permainan edukatif yang berkaitan dengan literasi,” jelasnya.
Keterlibatan orang tua dan anak dalam rangkaian kegiatan ini memperluas pembahasan literasi, tidak hanya sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan keluarga.
Deklarasi Bersama Jadi Komitmen Pegiat Literasi
Kemah Literasi juga menghasilkan deklarasi bersama Forum TBM Boyolali. Deklarasi tersebut menjadi bentuk kesepakatan antarpengelola taman bacaan dan pegiat literasi untuk memperkuat kolaborasi dalam memajukan literasi di daerah.
“Melalui deklarasi yang ditandatangani oleh beberapa TBM yang hadir tersebut, para pengurus TBM dan pegiat literasi menyatakan komitmen untuk berkolaborasi memajukan literasi di Kabupaten Boyolali dan sekitarnya,” kata dia.
Esti bersyukur kegiatan tersebut dapat berlangsung lancar meski penyelenggara menghadapi keterbatasan dana. Dengan jumlah peserta mencapai 88 orang, ia berharap Kemah Literasi dapat menjadi agenda tahunan untuk menjaga keberlanjutan komunikasi dan kerja sama di antara para pegiat.
Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan dukungan yang lebih besar terhadap gerakan literasi, termasuk melalui alokasi anggaran dan kemudahan perizinan bagi taman bacaan masyarakat.
“Kami berharap nantinya ada APBD yang disisihkan Pemkab Boyolali untuk Forum TBM dan izin perizinan dinas dipermudah, jangan dipersulit karena syarat pendirian TBM disamakan dengan PT,” kata dia.
DPRD Boyolali Dorong Dukungan Pendanaan
Wakil Ketua DPRD Boyolali, Nur Arifin, turut menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Kemah Literasi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan sumber daya manusia di kalangan pegiat literasi.
Menurutnya, dukungan pemerintah kabupaten diperlukan agar gerakan literasi dapat berkembang dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
“Kami mendorong pemerintah kabupaten untuk merespons positif kegiatan ini dengan memberikan dukungan pendanaan agar ke depan FTBM di Boyolali bisa lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata dia.
Harapan tersebut sejalan dengan keinginan Forum TBM Boyolali untuk menjadikan Kemah Literasi sebagai kegiatan berkelanjutan. Dukungan pendanaan dan kemudahan perizinan diharapkan dapat membantu para pegiat memperluas kegiatan literasi serta memperkuat kolaborasi antarkomunitas di Boyolali dan sekitarnya.
Sumber:solopos.espos.id