Grobogan – Masyarakat Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, memiliki tradisi adat bernama Asrah Batin yang mempertemukan warga Desa Karanglangu dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati. Lebih dari sekadar perayaan budaya, tradisi ini menjadi sarana untuk menjaga hubungan persaudaraan sekaligus mewariskan kisah leluhur kepada generasi berikutnya.
Salah satu bagian yang paling menonjol adalah prosesi penyeberangan Sungai Tuntang. Warga dari kedua desa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang merepresentasikan pertemuan kembali dua saudara dalam cerita rakyat Kedhana dan Kedhini.
Tradisi yang terus dilestarikan ini juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Grobogan. Nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan kepasrahan kepada Tuhan menjadi unsur penting dalam pelaksanaannya.
Kisah Kedhana dan Kedhini Menjadi Dasar Tradisi
Asrah Batin berakar pada cerita rakyat tentang Kedhana dan Kedhini yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Dalam kisah tersebut, Kedhana dan Kedhini merupakan saudara kandung yang terpisah sejak kecil. Keduanya tumbuh di tempat berbeda. Kedhana dikisahkan menetap di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Desa Karanglangu, sedangkan Kedhini tinggal di wilayah yang berkembang menjadi Desa Ngombak.
Setelah dewasa, keduanya bertemu kembali tanpa mengetahui bahwa mereka memiliki hubungan darah. Pertemuan itu kemudian mengarah pada rencana pernikahan. Namun, sebelum pernikahan berlangsung, hubungan persaudaraan mereka akhirnya terungkap.
Rencana pernikahan tersebut pun dibatalkan. Peristiwa itu kemudian dimaknai sebagai kesempatan untuk bersyukur karena keduanya akhirnya mengetahui jati diri dan hubungan keluarga mereka.
Cerita tersebut menjadi landasan pelaksanaan Asrah Batin hingga sekarang. Istilah Asrah Batin kerap dimaknai sebagai sikap menerima dan mengikhlaskan kenyataan, termasuk ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Karena berasal dari tradisi lisan, kisah Kedhana dan Kedhini dipahami sebagai cerita rakyat yang membentuk identitas budaya masyarakat Karanglangu dan Ngombak, bukan sebagai catatan sejarah yang telah terverifikasi secara terpisah.
Penyeberangan Sungai Tuntang Jadi Bagian Penting
Pelaksanaan Asrah Batin umumnya berlangsung setiap dua tahun sekali. Secara tradisional, penyelenggaraannya dikaitkan dengan bulan September pada hari Minggu Kliwon. Meski demikian, jadwal kegiatan dapat menyesuaikan kondisi dan keputusan panitia setempat.
Salah satu prosesi yang menjadi ciri khasnya adalah penyeberangan Sungai Tuntang. Rombongan warga Desa Karanglangu, termasuk kepala desa dan tokoh masyarakat, menuju Desa Ngombak menggunakan rakit atau getek yang disiapkan warga.
Setibanya di seberang sungai, rombongan disambut oleh masyarakat Desa Ngombak. Pertemuan tersebut menggambarkan kisah Kedhana dan Kedhini yang kembali bertemu setelah lama terpisah.
Di luar makna simbolisnya, prosesi ini juga memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Persiapan penyeberangan dan penyambutan membutuhkan kerja sama ant warga dari kedua desa.
Rangkaian kegiatan dapat diawali dengan persiapan adat, pencarian ikan melalui tradisi tubo atau tuba, serta ziarah ke makam leluhur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap pendahulu dan upaya mengenang asal-usul tradisi.
Rangkaian Upacara Sarat Makna Kebersamaan
Asrah Batin tidak hanya terdiri atas prosesi penyeberangan sungai. Tradisi ini juga mencakup sejumlah tahapan adat yang memiliki makna tersendiri.
Beberapa tahapan yang tercatat dalam kajian mengenai tradisi tersebut meliputi sasrahan, panggih, wisuhan, pembacaan sejarah Asrah Batin, selamatan atau kembul bujana, munggut, dan srah-srahan.
Prosesi panggih menjadi bagian penting yang menggambarkan pertemuan kedua pihak. Sementara itu, pembacaan sejarah Asrah Batin berfungsi mengingatkan masyarakat terhadap cerita leluhur yang melatarbelakangi penyelenggaraan upacara.
Kebersamaan juga terlihat dalam acara selamatan atau kembul bujana. Warga berkumpul untuk menikmati hidangan bersama, salah satunya nasi dengan lauk ikan mangut yang berasal dari hasil kegiatan tubo.
Hidangan tersebut menjadi bagian dari rangkaian adat sekaligus menunjukkan pemanfaatan sumber daya lokal dalam pelaksanaan tradisi.
Dalam prosesi munggut, masyarakat berebut berkat atau makanan yang dibagikan. Rangkaian ini turut memperlihatkan keterlibatan warga dalam suasana kebersamaan.
Tradisi tersebut juga mengenal penggunaan bedak boreh yang oleh sebagian masyarakat dipercaya memiliki manfaat tertentu, seperti membuat awet muda. Kepercayaan itu merupakan bagian dari pemaknaan budaya setempat dan bukan klaim medis yang telah dibuktikan.
Sebagai penutup, rangkaian acara biasanya dimeriahkan dengan pertunjukan tari tayub. Kesenian tersebut memberikan ruang hiburan sekaligus menjadi sarana interaksi sosial bagi masyarakat yang hadir.
Asrah Batin Mengajarkan Kepasrahan dan Persaudaraan
Makna Asrah Batin tidak berhenti pada pengenangan cerita Kedhana dan Kedhini. Tradisi ini juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga hubungan antarmanusia, menerima kenyataan, dan bersyukur atas keadaan yang dihadapi.
Kisah dua saudara yang hampir menikah sebelum mengetahui hubungan darah mereka menjadi pengingat mengenai pentingnya memahami asal-usul keluarga. Pembatalan rencana pernikahan dalam cerita tersebut juga menegaskan bahwa kenyataan perlu diterima ketika kebenaran telah diketahui.
Nilai kepasrahan kepada Tuhan tercermin dalam pemaknaan Asrah Batin sebagai sikap ikhlas terhadap ketetapan hidup. Sementara itu, kegiatan yang melibatkan warga dari dua desa memperlihatkan bahwa persaudaraan perlu dirawat melalui pertemuan dan kerja sama.
Penghormatan kepada tamu, gotong royong, ziarah makam leluhur, serta makan bersama turut memperkuat makna sosial tradisi ini. Setiap rangkaian menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mempertahankan hubungan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Keberadaan Asrah Batin menunjukkan bahwa tradisi lisan dapat tetap hidup melalui pelaksanaan upacara adat. Cerita Kedhana dan Kedhini tidak hanya disampaikan melalui tutur kata, tetapi juga dihadirkan kembali melalui simbol penyeberangan sungai, pertemuan warga, dan rangkaian kegiatan bersama.
Bagi masyarakat Karanglangu dan Ngombak, tradisi ini menjadi bagian dari identitas lokal yang menghubungkan cerita masa lalu dengan kehidupan sosial saat ini.
Pelestarian Asrah Batin karena itu tidak sekadar mempertahankan bentuk upacaranya. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan juga menjadi cara untuk mewariskan nilai persaudaraan, kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan sikap menerima kenyataan kepada generasi selanjutnya.
Sumber:Jatengkita.id